Ada nostalgia tersendiri setiapkali mengingat buku ini, Menyambung Aspirasi Rakyat: Profil ANggota DPRD Kabupaten Grobogan Hasil Pemilu 2019, tentang bagaimana Desember hadir membawa dramanya. Saat mayoritas orang memilih merayakan akhir tahun dan melepas penat, kenangan saya pada Desember 2019 justru diwarnai cerita berbeda. Momen itu abadi tersimpan sebagai masa-masa paling intens untuk menguji keberanian dan ketangguhan kami.
Kala itu, tepat pada minggu kedua Desember, kami menerima kepercayaan dari KPU Kabupaten Grobogan untuk menggarap proyek penulisan dan penerbitan buku profil 50 anggota DPRD hasil Pemilu 2019, lengkap beserta 5 komisioner KPU. Masalah utamanya terletak pada tenggat waktu: proyek ini harus tuntas sebelum kalender berganti tahun.
Praktis, kami hanya memiliki waktu sekitar tiga minggu. Tiga minggu untuk meriset, mewawancarai, menulis, menyunting, mendesain, hingga mengurus administrasi penerbitan untuk 55 figur. Dalam dunia penerbitan, ini adalah target yang mendekati mustahil—sebuah keputusan yang menuntut keberanian, atau mungkin, sedikit kerelaan untuk nekat.
Berjibaku dengan Waktu
Sebuah kerja besar tak mungkin digarap sendirian. Beruntung, Mas Munir, wartawan Jawa Pos Radar Kudus, yang menjadi partner utama penulisan. Ritme kerjanya yang energik, gercep, dan progresif menjadi bahan bakar utama kami. Bersamanya, kami tidak lagi sekadar bekerja, melainkan “berjibaku” menantang jarum jam.
Hari-hari berlalu dalam kecepatan penuh. Wawancara demi wawancara digulirkan, draf demi draf dirangkai. Namun, drama sebenarnya baru dimulai saat liburan akhir tahun tiba—momen yang sejatinya telah disiapkan jauh-jauh hari untuk keluarga.
Akhir tahun itu, kami sekeluarga bertolak ke Kota Tegal untuk berlibur selama seminggu. Di sinilah letak ironinya. Ketika istri dan anak-anak menikmati keriuhan objek wisata, pikiran saya justru tertambat pada layar laptop yang menampilkan puluhan draf naskah.
Saban hari, alih-alih ikut bersenang-senang, saya memilih berburu kafe yang tenang di sudut Kota Tegal. Di antara aroma kopi dan deru kendaraan kota pesisir itu, jemari saya sibuk menari di atas papan ketik: menyunting kalimat, menyelaraskan narasi, hingga mengurus pendaftaran ISBN secara daring. Liburan keluarga dan tenggat waktu pekerjaan akhirnya berjalan beriringan dalam satu ruang yang sama.
Apakah bukunya selesai tepat pada 31 Desember? Secara fisik, tentu belum. Namun secara proses, target itu berhasil tercapai. Seluruh naskah selesai ditulis dan disunting, tata letak serta desain kover usai digarap, dan buku dummy siap diserahkan sebagai laporan resmi.
Beberapa waktu kemudian, ketika wujud fisik buku itu akhirnya mendarat di tangan, ada rasa lega yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Plong. Rasa lelah, pengorbanan waktu liburan, dan tumpukan stres yang mengendap selama tiga minggu luluh seketika. Seluruh jerih payah terbayar lunas tanpa sisa.
Merekam Jejak yang Berganti
Hari ini, tak terasa buku tersebut telah berusia lebih dari enam tahun. Waktu bergerak begitu cepat, membawa perubahan pada jagat politik lokal. Anggota dewan yang profil dan cita-citanya terpatri di dalam buku itu kini sudah berganti masa jabatan—sebagian terpilih kembali, sebagian lainnya melapangkan jalan bagi wajah-wajah baru.
Namun, bagi saya, mungkin juga bagi Mas Munir, dan penerbit Hanum, buku itu lebih dari sekadar dokumen publikasi atau laporan proyek. Ia adalah bukti otentik dari sebuah dedikasi. Di dalam lembar-lembarnya, tidak hanya terekam rekam jejak para wakil rakyat Grobogan, tetapi juga tersimpan cerita tentang keberanian, kerja keras, dan sudut-sudut kafe di Tegal yang menjadi saksi bisu perjuangan menundukkan waktu.
*Punya ide dan gagasan menulis buku tapi kesulitan untuk mengeksekusinya? Anda butuh asistensi dan pendampingan dalam penulisan buku? Silakan hubungi: 0823 1825 1332 (WA Only).