Rabu, 22 Juli 2026
Resensi 5 menit baca

Pangeran Penatas Angin: Kisah Sang Daeng Gowa yang Menjadi Senopati dan Wali di Tanah Jawa

Pangeran Penatas Angin: Kisah Sang Daeng Gowa yang Menjadi Senopati dan Wali di Tanah Jawa
Komponen Identitas Detail Informasi
Judul Buku Sunan Ngatas Angin (Pangeran Penatas Angin): Riwayat Hidup, Perjuangan, dan Pepali
Penulis RT. Supriyo Dwijodipuro
Penyunting Badiatul Muchlisin Asti
Penerbit CV. Hanum Publisher
Tahun Terbit 2024 (Cetakan Pertama)
ISBN 978-623-7725-40-4
Dimensi & Halaman 12,5 x 18,5 cm; vii + 74 halaman

Kejayaan Kasultanan Demak Bintara sebagai pusat peradaban Islam pertama di Jawa kerapkali terjebak dalam narasi Jawa-sentris. Namun, buku Sunan Ngatas Angin: Riwayat Hidup, Perjuangan, dan Pepali karya RT. Supriyo Dwijodipuro menawarkan perspektif baru yang menyegarkan mengenai kosmopolitanisme Islam Nusantara. Penulis berhasil mengurai peran strategis figur mancanegara, khususnya dari Makassar, yang menjadi tulang punggung kekuatan militer dan spiritual Demak. Kehadiran Pangeran Penatas Angin (Daeng Mangemba Nattisoang) menjadi bukti empiris bahwa Islamisasi Nusantara merupakan proyek kolaboratif lintas etnis yang harmonis.

Buku ini bergerak di antara batas tipis hagiografi dan historiografi kritis. Melalui pendekatan analitis, penulis menafsirkan kembali memori kolektif tradisi lisan menjadi literatur sejarah yang berwibawa. Kredibilitas penulis sebagai abdi dalem Keraton Surakarta dan Wakil Ketua Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) memberikan bobot otoritas pada narasi ini. Berbekal akses eksklusif terhadap sumber primer internal keraton dari KH. Abdul Ghofur Moezaini, ia mengubah “cerita rakyat” menjadi ulasan sejarah yang relevan bagi akademisi.

Asal-Usul, Hijrah, dan Kiprah Strategis Daeng Mangemba

Untuk mengapresiasi hijrah Daeng Mangemba ke Jawa, kita harus memahami kompleksitas struktur kebangsawanannya di Kerajaan Gowa. Lahir pada tahun 1498, ia adalah putra Raja Gowa ke-9, Karaeng Tumapa’risi’ Kalonna. Namun, statusnya sebagai anak sipuwe (anak selir) membatasi peluangnya dalam suksesi takhta (anak pattola). Dinamika sosiologis ini mendorong sang Pangeran mencari ruang pengabdian di luar tanah kelahirannya.

Sejak dini, ia dididik oleh pamannya, Daeng Pomatte’—seorang panglima sekaligus Juru Tulis kerajaan pertama di Gowa—sehingga ia menguasai kecakapan literasi birokrasi. Ia juga menguasai “Ilmu Menolak Angin” yang dilatih di kawasan pesisir Makassar (kini Stadion Mattoangin). Alih-alih terjebak dalam politik internal istana Gowa, keterbatasan status sosial ini menjadi katalisator baginya untuk mengekspresikan diri melalui jalur militer dan spiritual di kancah geopolitik Selat Malaka.

Kebetulan, penetrasi kolonial Portugis pada abad ke-16 mulai mengancam stabilitas Nusantara. Ancaman ini menjadi perekat hubungan antara ulama Demak dan bangsawan Gowa. Pertemuan Daeng Mangemba dengan Kiai Sulasi (I Galasi) dari Demak kemudian memicu keterlibatannya dalam misi rahasia “Laskar Pati Unus”.

Saat armada Demak dihantam badai di Selat Berhala dalam perjalanan menuju Malaka, kemahiran Daeng Mangemba menghalau badai membuat Pati Unus menganugerahinya gelar Pangeran Penatas Angin. Gelar ini merupakan bentuk penyesuaian lidah Jawa atas nama aslinya, “Mangemba” (menghalau).

Setelah kekalahan besar armada Demak pada 1 Januari 1513, orientasi hidup sang pangeran bergeser dari militer murni menuju pencarian hakikat iman. Terdorong oleh rasa simpati pada para syuhada, ia akhirnya memutuskan menetap di Jawa dan berguru kepada Sunan Kalijaga.

Inisiasi Spiritual, Pengabdian Militer, dan Warisan Sosial Sunan Ngatas Angin

Sebagai murid pertama yang diterima setelah Sunan Kalijaga mendapatkan wejangan “Iman Hidayat” dari Nabi Khidhir AS, Pangeran Penatas Angin harus melewati tiga ujian simbolis (pandadaran). Ujian pertama adalah Pengendalian Diri untuk memadamkan api sebagai simbol meredam nafsu angkara murka.

Selanjutnya, ia diuji dalam hal Kepemimpinan dengan mengarahkan ribuan lebah ke dalam sarangnya (tala) sebagai lambang kemampuan mengarahkan umat agar produktif menghasilkan kebajikan. Terakhir, ia menempuh ujian Keyakinan melalui proses Besut Sukma untuk menemukan sukma sang Guru di angkasa lewat kejujuran batin yang hakiki.

Kelulusan ini memantapkan posisinya dengan otoritas spiritual yang setara dengan para wali lainnya, selaras dengan esensi ajaran Sunan Kalijaga yang menekankan pentingnya menjadi ngalim laku (ahli dalam perbuatan nyata) berlandaskan tiga pilar: dhokoh (rajin), loman (dermawan), dan ikhlas.

Kemapanan spiritual tersebut melandasi dharma baktinya selama 53 tahun (1515–1569) kepada tiga Sultan Demak dengan prinsip sendika dhawuh. Sebagai panglima perang, ia memimpin penaklukan wilayah strategis seperti Daha, Sunda Pajajaran, Sunda Kelapa (1527), Madiun (1530), serta Singasari dan Pasuruan (1546).

Otoritasnya diakui secara resmi dalam Kitab Pustaka Darah Agung (1937) yang menempatkan Sunan Ngatas Angin (gelar spiritual dari Sunan Kalijaga) di posisi terhormat. Di tengah keruntuhan Demak akibat intrik politik (rebut bathok bolu isi madu), ia memilih mundur secara kesatria demi menjaga integritasnya.

Pasca-Demak, sang Sunan melakukan uzlah ke Maroko sebelum akhirnya menetap di Dukuh Tahunan, Grobogan, Jawa Tengah. Di tempat baru ini, ia mengimplementasikan dakwah sosial yang sangat progresif bagi perdamaian dengan mewariskan keterampilan pande besi yang hingga kini menghidupi ratusan warga. Uniknya, ia melarang pembuatan senjata tajam berhias (bilah pamor) dan mengarahkan masyarakat untuk fokus memproduksi alat-alat pertanian, mengubah orientasi dari pembuat senjata perang menjadi pencipta sarana penghidupan.

Warisan Pesan Moral dalam Pepali

Buku ini berhasil memadukan sejarah lisan dan fakta tertulis, sekaligus memposisikan Sunan Ngatas Angin sebagai simbol persatuan lintas etnis antara Gowa dan Jawa. Ajaran moral sang Sunan terangkum dalam tiga Pepali (nasihat) utama, yang menekankan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, guru, dan pemimpin.

Selain itu, keberkahan ilmu diyakini lahir dari bakti seorang santri yang memegang teguh keyakinan, ketaatan, serta kesetiaan kepada gurunya. Sebagai penyempurna moral, seorang mukmin sejati pun diwajibkan untuk memiliki dan mengamalkan sifat rajin (dhokoh), dermawan (loman), serta ikhlas dalam setiap kebajikan yang dilakukan. Nilai-nilai ini menjadi antitesis yang relevan bagi masyarakat modern, membuktikan bahwa kemuliaan sejati dicapai melalui pengabdian nyata bagi kemaslahatan umat.

Dunia Hanum

Dunia Hanum

Penulis · Duniahanum.com
Lihat Profil

Penulis di Duniahanum.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *