| Komponen Data | Keterangan |
| Judul | Dahsyatnya Air Zamzam: Mengungkap Keistimewan dan Keberkahan Air Zamzam dalam Perspektif Agama dan Sains |
| Penulis | Badiatul Muchlisin Asti |
| Penerbit | Oase Qalbu |
| Cetakan ke-1 | Maret 2018 |
| Tebal | xvi + 162 Halaman |
| ISBN | 978-602-7645-49-3 |
| Harga | – |
| Stock | Ready |
| Pemesanan via WA | 081347014686 |
Sebuah Mukjizat yang Tak Pernah Kering di Tengah Gurun Kehidupan.
Selama hampir 5.000 tahun, mata air kecil di dekat Ka’bah itu tak pernah berhenti mengalirkan keberkahan. Jutaan manusia meminumnya, membawa pulang tangki-tangki penuh kebahagiaan, namun permukaannya tetap stabil. Mengapa air Zamzam begitu istimewa hingga Rasulullah Saw menyebutnya sebagai sebaik-baik air di muka bumi?
Buku “Dahsyatnya Air Zamzam” mengajak Anda menyelami rahasia dan keagungan air suci ini melalui dua sudut pandang sekaligus; spiritual-keagamaan yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits, serta pembuktian sains modern yang menakjubkan.
Di dalamnya, Anda akan menemukan:
- Sejarah dan Profil Lahirnya Zamzam. Napak tilas perjuangan ibunda Hajar dan nabi Ismail As, hingga penggalian kembali oleh Abdul Muthalib.
- Mukjizat dan Keberkahan Nyata. Bagaimana Zamzam menjadi perantara kesembuhan berbagai penyakit, pengganjal lapar, hingga media pembasuh hati suci Rasulullah Saw.
- Perspektif Sains Modern. Fakta unik susunan molekul kristal tercantik di dunia hingga kandungan zat antimikroba alami yang teruji klinis secara internasional.
- Testimoni Inspiratif. Kisah nyata keajaiban doa pascameminum Zamzam dari kalangan sahabat, ulama salaf, hingga umat Muslim kontemporer yang sembuh dari penyakit medis berat.
Buku ini adalah bacaan wajib bagi setiap muslim, terutama bagi Anda yang merindukan atau bersiap menapakkan kaki di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Reguk kesegarannya, hadirkan keyakinan di setiap tetesnya, dan temukan keajaiban doa Anda di sana!
“Sebaik-baik air di muka bumi ini adalah air zamzam, di dalamnya ada makanan yang mengenyangkan dan obat yang menyembuhkan.” — (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban)