Bagi sebagian orang, menulis buku tebal beratus-ratus halaman terasa seperti berlari maraton 42 kilometer. Di kilometer awal semangat memuncak, tetapi memasuki pertengahan jalan, napas mulai terengah-engah, ide membeku, dan ujung-ujungnya naskah tersebut terkubur rapi di folder draft komputer yang tak pernah disentuh lagi.
Banyak penulis pemula yang mengalami hal itu. Apakah Anda pernah berada di fase itu? Atau malah sekarang tengah mengalaminya? Meski sudah menulis dan menerbitkan puluhan buku di sejumlah penerbit terkemuka di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Solo, belakangan saya mulai menerapkan sebuah “jalan ninja” (sebut saja begitu) berupa strategi menulis dan menerbitkan buku antologi tanpa harus merasa ngos-ngosan.
Metode ini sebenarnya sederhana namun efektif, yakni memecah proyek besar sebuah buku menjadi potongan-potongan kecil yang konsisten, memvalidasinya ke publik, lalu merangkainya kembali menjadi sebuah karya utuh.
Tahap 1: Menanam Benih Secara Periodik
Langkah pertama dalam strategi ini adalah mengagendakan penulisan artikel secara berkala dengan tema-tema serumpun. Dibandingkan langsung memaksakan diri menulis bab demi bab sebuah buku, Anda bisa memilih fokus menyelesaikan satu artikel pendek namun tuntas.
Topiknya bisa bervariasi sesuai atensi dan kompetensi Anda, tetapi tetap dalam satu “payung besar”—misalnya seputar parenting, isu-isu pendidikan nasional, sejarah kuliner nusantara, budaya lokal, motivasi ibadah, atau refleksi keislaman populer.
Agar tulisan tersebut teruji dan memiliki kredibilitas, sebaiknya tulisan tidak langsung disimpan di mesin pencari lokal. Saya sendiri memilih mengirimkannya terlebih dahulu ke media massa, terutama saat ini media daring. Tulisan bertema sejarah kuliner, misalnya, saya kirimkan ke portal seperti Telusuri.id dan portal daring lainnya. Sedangkan tulisan bernuansa motivasi spiritual atau ibadah, dulu kerap saya unggah secara berkala di media sosial seperti Facebook untuk melihat respons dan engagement langsung dari pembaca.
Bagi saya, proses mengirim ke media ini berfungsi sebagai “kawah candradimuka”. Selain melatih kedisiplinan dan menjaga ritme menulis, kurasi dari editor media menjadi garansi bahwa gagasan yang kita usung memang layak dan dapat diterima publik.
Tahap 2: Memanen dan Merangkai Mozaik
Ketika jumlah artikel yang dimuat sudah cukup banyak dan terasa matang untuk disatukan, masuklah ke tahap kedua: mengelompokkan dan merangkai.
Artikel-artikel terpisah yang semula berdiri sendiri mulai saya petakan. Saya mengelompokkannya ke dalam sub-sub judul yang saling berkaitan, merumuskan benang merahnya, lalu menjahitnya dengan struktur bab yang runtut. Pada tahap ini, tugas kita bukan lagi menulis dari nol, melainkan bertindak sebagai kurator atas karya sendiri.
Proses ini dilengkapi dengan penyusunan judul utama yang memikat, pembuatan kata pengantar yang memberi konteks, serta meminta endorsement dari tokoh atau kolega jika diperlukan. Kerangka yang tadinya merupakan tumpukan mozaik terpisah, kini bertransformasi menjadi sebuah naskah buku yang padu dan utuh.
Bukti yang Teruji di Lapangan
Metode ‘jalan ninja’ ini bukan sekadar teori di atas kertas, tapi sistem yang sudah terbukti nyata dalam perjalanan menulis saya, terutama di beberapa tahun belakangan.
Melalui pola ini, lahir buku kompilasi motivasi ibadah saya yang berjudul Menempuh Jalan ke Surga. Berawal dari artikel-artikel reflektif yang saya unggah secara periodik di laman Facebook—dulu ketika masih ada fitur Notes, sekarang sudah tidak ada; naskah ini berhasil diminati dan diterbitkan oleh penerbit Quanta (Imprint Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia Group).
Di jalur yang berbeda, kumpulan artikel sejarah kuliner ikonik yang pernah tayang di berbagai media daring juga berhasil saya rangkai menjadi buku Riwayat Kuliner Indonesia: Asal-usul, Tokoh, Inspirasi, dan Filosofi. Buku bernuansa histori ini saya terbitkan secara mandiri melalui Hanum Publisher, membuktikan bahwa metode ini sangat fleksibel—baik untuk jalur penerbitan mayor (major publisher) maupun penerbitan mandiri (self-publishing).
Mengapa Metode Ini Bekerja?
Ada tiga alasan utama mengapa strategi ini sangat layak dicoba oleh siapa saja yang ingin memiliki buku dengan cara nyicil: Pertama; Efisiensi Energi Mental. Kita tidak terbebankan oleh bayangan “harus menyelesaikan 200 halaman”. Fokus kita hanya menyelesaikan 700–1.500 kata per artikel.
Kedua; Uji Pasar Otomatis. Sebelum buku dicetak, ide-ide kita sudah diuji oleh pembaca media online atau media sosial. Kita tahu mana topik yang paling menyentuh atau memicu diskusi. Di buku Menempuh Jalan ke Surga, interaksi dan kehangatan komen teman-teman warganet saya tampilkan di halaman akhir buku sebagai kenangan.
Ketiga; Double Impact. Satu karya tulisan memberikan dua manfaat sekaligus: pertama sebagai konten media (yang memberi panggung kepenulisan kita saat ini), dan kedua sebagai tabungan naskah buku (untuk jangka panjang).
Menulis buku pada dasarnya bukan tentang siapa yang paling cepat berlari, melainkan siapa yang paling pintar mengelola stamina. Jika menulis buku secara konvensional membuat Anda sering kehabisan napas di tengah jalan, mungkin ini saatnya Anda mencoba “jalan ninja” ini: tulis sedikit demi sedikit, siarkan, kumpulkan, dan jadikan buku.
